PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK)
A. Judul
Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Melalui Strategi Siklus ACE Pada Pembelajaran Fisika di SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
B. Latar Belakang Masalah
Fisika merupakan ilmu merupakan ilmu pengetahuan alam (IPA), oleh karenanya Fisika mempunyai karakteristik sama dengan IPA. Karakteristik tersebut adalah objek ilmu Fisika, cara memperoleh, serta kegunaannya. Fisika merupakan ilmu yang pada awalnya diperoleh dan dikembangkan berdasarkan percobaan (induktif) namun pada perkembangan selanjutnya Fisika juga diperoleh dan dikembangkan berdasarkan teori (deduktif). Fisika adalah ilmu yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam yang berkaitan dengan komposisi, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika zat. Oleh sebab itu, mata pelajaran fisika di SMA/MA mempelajari segala sesuatu tentang alam, struktur dan sifat, perubahan, dinamika, dan energetika yang dituangkan secara matematis yang melibatkan keterampilan dan penalaran. Ada dua hal yang berkaitan dengan kimia yang tidak terpisahkan, yaitu kimia sebagai produk (pengetahuan kimia yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori) temuan ilmuwan dan kimia sebagai proses (kerja ilmiah). Oleh sebab itu, pembelajaran fisika dan penilaian hasil belajar fisika harus memperhatikan karakteristik ilmu fisika sebagai proses dan produk. Tujuan mata pelajaran fisika dicapai oleh peserta didik melalui berbagai pendekatan, antara lain pendekatan induktif dalam bentuk proses inkuiri ilmiah pada tataran inkuiri terbuka. Proses inkuiri ilmiah bertujuan menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta berkomunikasi sebagai salah satu aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran fisika menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah (Permendiknas 22 tahun 2006)
Masalah yang sering muncul pada proses pembelajaran fisika berdasarkan pengalaman penulis dalam pengelola pembelajaran antara lain 1) aktivitas belajar siswa sangat rendah, terindentifikasi dari minat bertanya siswa kurang, kurang berani mengemukakan pendapat, kurang berani mengajukan gagasan, tidak mau mengajukan hipotesis, kurang percaya diri, kurang mau menyiapkan diri dalam belajar. Aktivitas belajar merupakan kegiatan dalam proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mendiskusikan bahan ajar, mengerjakan tugas-tugas, serta interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan bahan ajar, siswa dengan sumber belajar. 2) nilai hasil belajar kimia siswa cukup rendah. Fakta ini teridentifikasi dari hasil evaluasi ulangan harian, hasil tes tengah semester, dan hasil tes ulangan akhir semester 1.
Pada proses pembelajaran kompetensi Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda titik yang disajikan dengan metode konvensional (ceramah, tanya jawab, diskusi) tampak aktivitas siswa kurang optimal melibatkan diri dalam proses belajar. Aktivitas yang tampak paling menonjol adalah kemauan untuk bertanya dan kemampuan mengajukan ide, berhipotesis, menjawab pertanyaan, mau berpartisipasi menyimpulkan hasil belajar sangat kurang. Hanya sekitar 2 % siswa yang terlibat aktif sesuai indikasi di atas.
Hasil tes menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa belum tuntas dalam menempuh kompetensi Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda titik yang diberikan. Standar ketuntasan belajar minimal yang dipersyaratkan adalah 70. Aktivitas belajar siswa yang rendah jika dibiarkan akan memberikan dampak yang kurang baik terhadap: 1) sikap kritis siswa, 2) sikap terhadap mata pelajaran Fisika, 3) sikap ilmiah siswa, 4) kemauan siswa untuk kerja keras, ulet, tekun, tidak mudah putus asa, dan pada akhirnya berdampak pada hasil belajar yang kurang memuaskan. Aktivitas belajar siswa yang rendah dan hasil belajar kimia yang kurang dapat disebabkan oleh beberapa hal : 1) siswa kurang berani dan kurang terlatih untuk bertanya saat proses pembelajaran, 2) siswa tidak terlatih untuk mengajukan gagasan dan hipotesis saat proses pembelajaran, 3) siswa kurang banyak berperan secara optimal saat diskusi pada proses pembelajaran, 4) siswa kurang banyak memperoleh latihan terbimbing dalam pemecahan masalah pada saat belajar di kelas.
Penguasaan terhadap unit-unit pembelajaran atau kompetensi oleh siswa sangat mutlak diperlukan dalam upaya meraih nilai tes yang baik. Salah satu cara untuk meningkatkan penguasaan kompetensi adalah berlatih (exercise) dengan tekun dan berulang-ulang. Dengan latihan secara terus menerus maka akan terjadi aktivitas belajar yang lebih variatif, lebih interaktif, lebih kreatif serta memungkinkan terjadi diskusi (discussion) bersama teman sejawat dan nara sumber. Diskusi yang lebih variatif sangat perlu dikembangkan sehingga suasana belajar siswa menjadi lebih hidup dan bergairah. Dengan berlandaskan pemikiran tersebut, peneliti menerapkan strategi pembelajaran dengan siklus ACE (aktivities, class discussion, exercise) sebagai upaya memperbaiki aktivitas dan hasil belajar siswa (Asiala. et al, 2000).
C. Rumusan masalah
Rumusan masalah yang diajukan pada penelitian tindakan ini adalah:
1) Apakah strategi pembelajaran siklus ACE dapat meningkatkan aktivitas belajar fisika siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi?
2) Apakah strategi pembelajaran siklus ACE dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi?
3) Bagaimana respon siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi terhadap implementasi strategi pembelajaran siklus ACE ?
D. Pemecahan Masalah
Seiring dengan permasalahan yang ditemukan dan yang diajukan, maka alternatif pemecahannya dapat dikemukakan sebagai berikut: mengaktifkan siswa untuk terlibat seoptimal mungkin dalam proses pembelajaran. Cara yang dipilih pada penelitian ini adalah memberikan topik ajar pada kompetensi hidrokarbon kepada siswa untuk disimak, kemudian siswa mengajukan pertanyaan tertulis terkait dengan topik ajar yang mereka belum pahami dan membuat jawaban sementara (hipotesis) terhadap pertanyaan yang mereka ajukan. Kemudian pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa didiskusikan dengan diskusi kelompok maupun diskusi kelas. Pada saat diskusi diharapkan muncul gagasan-gagasan siswa. Setelah siswa diskusi untuk topik ajar, maka kepada siswa diberikan latihan memecahkan masalah. Pemilihan metode ini dipilih karena 1) siswa akan berlatih berpikir kreatif, 2) siswa berlatih keterampilan berpikir tingkat tinggi, 3) siswa berlatih berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Aktivitas dan penguasaan konsep siswa diamati dan dievaluasi, jika belum memenuhi harapan maka kepada siswa kembali diberikan topik ajar untuk disimak, mengajukan pertanyaan dan hipotesis, lakukan diskusi dan kembali diberikan latihan pemecahan masalah. Sehingga proses pembelajaran merupakan sebuah siklus yakni aktivitas- diskusi kelas- latihan pemecahan masalah. Metode yang demikian dikenal dengan siklus ACE (aktivities, class discussion, exercise). Dengan metode tersebut di atas, diharapkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
E. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar fisika siswa, meningkatkan hasil belajar kimia dan mendeskripsikan respon siswa yang dapat dirinci sebagai berikut:
1) meningkatkan aktivitas belajar kimia siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
2) meningkatkan hasil belajar kimia siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
3) mendeskripsikan respon siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi terhadap implementasi strategi pembelajaran dengan metode siklus ACE.
F. Manfaat Penelitian
Melalui penelitian tindakan ini diharapkan hasilnya memberikan manfaat:
1. Secara teoritis, untuk menambah khazanah hasil penelitian tentang upaya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan metode siklus ACE dan membuka kemungkinan dilakukan penelitian tindakan lebih lanjut tentang permasalahan sejenis.
2. Secara praktis:
a) bagi siswa, memberikan kesempatan pada siswa untuk melakukan perbaikan pemahaman konsep secara cepat, berlatih keterampilan bertanya, berlatih mengajukan hipotesis dan gagasan,
b) bagi guru peneliti, untuk mengembangkan strategi, metode dan teknik pembelajaran yang kreatif, inovatif, yang meningkatkan motivasi belajar siswa,
c) bagi lembaga/sekolah, sebagai masukan dalam upaya mengembangkan kurikulum yang berbasis karakteristik siswa dan potensi sekolah.
G. Kajian Teori
1. Siklus ACE
Siklus ACE(aktivities, class discussion, exercise) merupakan implementasi pembelajaran berdasarkan teori APOS ( action, process, object, schema) yang telah dikembangkan oleh peneliti di Amerika Serikat( RUMEC). Siklus ACE mencakup tiga langkah kegiatan belajar yaitu aktivitas, diskusi kelas dan latihan. Strategi ini memberikan para siswa untuk belajar secara sistematis, efektif dan efisien dalam menghadapi berbagai bahan ajar (Nurlaelah, 2003). Langkah-langkah kegiatan belajar secara rinci menurut siklus ACE adalah sebagai berikut. 1) Tahap aktivitas ( A = activities). Pada tahap ini siswa melakukan aktivitas dengan tujuan untuk mengenalkan konsep, informasi, atau situasi baru. Pada tahap ini siswa diberi tugas-tugas, permasalahan untuk dipecahkan sehingga siswa belajar menemukan sesuatu dan mengkonstruksi pengalaman yang mereka dapatkan. Kegiatan beraktivitas dapat dilakukan secara mandiri maupun kooperatif. 2) Tahap diskusi kelas ( C = class discusion). Pada tahap ini siswa diberikan atau diajak berdiskusi untuk mengemukakan gagasan, mengajukan hipotesis, serta temuan konsep baru. Dalam berdiskusi siswa bertanya, mengemukakan masalah yang ditemukan pada tahap aktivitas. Guru berperan sebagai fasilitator, motivator dan mediator saat siswa berdiskusi. 3) Tahap latihan memecahkan soal ( E = exercise). Pada tahap ini siswa berlatih mengaplikasikan konsep dan memantapkan konsep yang telah mereka peroleh dan pahami pada tahap sebelumnya (Asiala. et al, 2000).
Dengan demikian tiga tahap kegiatan aktivitas, diskusi kelas dan latihan memecahkan masalah atau soal merupakan rangkaian kegiatan yang berulang dapat dilakukan dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu kegiatan belajar merupakan suatu siklus. Melalui kegiatan yang berulang-ulang diharapkan siswa lebih memahami konsep yang diajarkan.
2. Pembelajaran Konstruktivis dalam Pelajaran Fisika
Menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan dibangun di dalam pikiran siswa. Semua pengetahuan ilmiah merupakan bentukan individu menurut persepsi individu terhadap realitas dan pengalaman. Belajar secara konstruktivis adalah : 1) siswa secara aktif memilih dan mengamati beberapa informasi baru dalam lingkungannya, 2) pengetahuan yang dimiliki siswa mempengaruhi stimulus, 3) masukan yang dipilih dan diperhatikan tidak segera mempunyai makna, 4) siswa secara aktif menyusun hubungan-hubungan antara informasi baru dan ide-ide yang ada pada dirinya yang dianggapnya relevan, 5) siswa mengkonstruksi makna dari hubungan-hubungan antara informasi baru dan pengetahuan yang telah dimiliki, 6) siswa mungkin menguji makna-makna yang disusunnya yang berlawanan dengan memori dan pengalaman yang dirasakan, 7) siswa mungkin memasukkan konstruk-konstruk baru ke dalam salah satu memorinya dan menghubungkannya dengan ide-ide yang sudah ada atau dengan cara membangun kembali ide-idenya, dan 8) siswa akan meletakkan beberapa status pada konstruk baru. (RossTasker), dalam Suastra, 2002).
O’Loughlin (1992), dalam Sudria, dkk., (2000) mengemukakan empat prinsip pembelajaran menurut pandangan konstruktivisme 1) manusia mengkonstruksi pengalamannya melalui kerangka logis yang mentrasformasikan, mengorganisasikan, dan menginterprestasikan, 2) pengkonstruksian pengetahuan terjadi melalui proses asimilasi dan akomodasi, 3) pebelajar pada proses belajar harus mendapat pengalaman berhipotesis, memprediksi, memanipulasi objek, mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, berimajinasi, dan menemukan dalam upaya mengembangkan konstruksi-konstruksi baru, 4) belajar bermakna terjadi melalui refleksi dan resolusi konflik.
Driver dan Oldham (dalam Suastra, dkk., 1998) menyatakan beberapa ciri mengajar konstruktivis adalah : 1) orientasi, siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan motivasi dalam mempelajari suatu topik melalui kegiatan observasi, 2) elicitasi, siswa dibantu untuk mengungkapkan idenya secara jelas dengan berdiskusi, menulis, membuat foster, dan lain-lain, 3) restrukturisasi ide, meliputi klarifikasi ide, membangun ide yang baru, mengevaluasi ide baru, 4) penggunaan ide dalam banyak situasi, dan 5) review.
Menurut Suparno (1997), dengan filosofi belajar konstruktivisme maka tugas pengajar adalah: 1) menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses, dan penelitian, 2) memberikan atau menyediakan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan siswa dan membantu siswa untuk mengekspresikan gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiahnya, 3) memonitor, mengevaluasi kegiatan siswa dalam upaya membangun pengetahuan melalui pengalaman belajar itu.
Dengan demikian jelaslah bahwa dalam strategi belajar mengajar, tugas pengajar adalah menjadi mitra yang aktif bertanya, merangsang pemikiran siswa, menciptakan persoalan, membiarkan siswa mengungkapkan gagasan atau konsepnya, serta kritis menguji konsep-konsep siswa. Pengajar menunjukkan dan mempertanyakan apakah pengetahuan siswa itu berlaku atau tidak untuk menghadapi persoalan baru yang dikaitkan. Pengajar membantu mengevaluasi hipotesis dan simpulan.
Pelajaran fisika sebagai bagian dari pelajaran sains yang dapat berupa fakta, konsep, prinsip, teori, dan hukum diperoleh melalui keterampilan proses sains. Keterampilan proses sains merupakan proses inkuiri ilmiah. Oleh karena itu pembelajaran fisika harus dilakukan melalui keterampilan proses sains. Keterampilan proses sains adalah serangkaian kegiatan belajar yang dilakukan untuk memperoleh pengetahuan sains. Untuk memperoleh pengetahuan kimia maka kegiatan belajar harus dilakukan melalui pengamatan, penelitian, mengajukan masalah, berhipotesis, mencari jawaban atas hipotesis yang diajukan yang semuanya merupakan cara membangun pengetahuan menurut pandangan konstruktivisme.
Pada standar kompetensi pelajaran fisika tertuang pada pokok bahasan Hukum Newton. Pencapaian kompetensi ini memerlukan proses pembelajaran yang sedemikian agar terjadi pemrosesan informasi di benak siswa berlangsung secara konstruktivis, kompetensi ini memiliki karakteristik tersendiri.
3. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
Aktivitas merupakan segala kegiatan yang dilaksanakan baik secara jasmani maupun rohani. Aktivitas siswa dalam pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keingintahuan siswa untuk belajar. Siswa dikatakan aktif dalam pembelajaran apabila ditemukan ciri-ciri perilaku berikut: 1) antusian dalam mengikuti pembelajaran, 2) terjadi interaksi siswa dengan guru dan siswa dengan siswa, 3) siswa terlibat dan bekerjasama dalam diskusi kelompok, 4) terjadi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran, 5) berpartisipasi dalam menyimpulkan materi pembelajaran ( Tim Instruktur PKG, 1992, dalam Sastra Widana, 2007).
Menurut Jarwoski (dalam Pujawan, 2001) mengemukakan bahwa aktivitas yang signifikan untuk efektivitas belajar adalah interaksi siswa dengan siswa, siswa dengan bahan ajar, siswa dengan guru dan guru dengan bahan ajar. Aktivita yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mendiskusikan bahan ajar dan mengerjakan tugas-tugas. Dengan demikian, mengoptimalkan interaksi semua komponen dalam elemen pembelajaran aktivitas belajar siswa akan berlangsung dengan lebih baik.
4. Hasil Belajar
Hasil belajar mencerminkan keluasan dan kedalaman serta kerumitan kompetensi yang dirumuskan dalam pengetahuan, perilaku, keterampilan, sikap dan nilai yang dapat diukur dengan menggunakan berbagai teknik penilaian (Depdiknas, 2003). Untuk mengetahui hasil belajar siswa, maka ditentukan indikator-indikator untuk setiap kompetensi yang hendak dicapai. Pada standar kompetensi Menerapkan konsep dan prinsip dasar kinematika dan dinamika benda titik., salah satu kompetensi dasar yang disasar adalah Menerapkan hukum Newton sebagai prinsip dasar dinamika untuk gerak lurus, gerak vertikal, dan gerak melingkar beraturan.
Pencapaian hasil belajar kompetensi ini agak sulit dicapai dengan percobaan karena keterbatasan ketersediaan bahan, oleh karena itu diperlukan strategi tertentu dalam pencapaiannya.
H. Hipotesis Tindakan

| ||||||||||||||||||||||||||
![]() | ||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||
![]() | ![]() | |||||||||||||||||||||||||
![]() |
| |||||||||||||||||||||||||
![]() | ![]() | |||||||||||||||||||||||||
![]() | ||||||||||||||||||||||||||
![]() | ||||||||||||||||||||||||||
| ||||||||||||||||||||||||||
![]() | ||||||||||||||||||||||||||
![]() | ||||||||||||||||||||||||||
Gambar 1. Kerangka berpikir penelitian tindakan
Dengan kerangka berpikir dan strategi pembelajaran yang dilakukan maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut.
1) Strategi pembelajaran siklus ACE dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
2) Strategi pembelajaran siklus ACE dapat meningkatkan hasil belajar fisika siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
3) Strategi pembelajaran siklus ACE mendapat respon positip dari siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
I. Rencana dan Prosedur Penelitian
1. Setting Penelitian
1.1 Waktu Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2010/2011.
1.2. Lokasi Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan di SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi semester genap (semester 2) tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 32 orang, yang terdiri dari 15 orang laki-laki dan 17 orang perempuan. Siswa kelas X-1 memiliki kemampuan akademis yang heterogen berdasarkan hasil evaluasi belajar pada semester 1. Objek penelitian adalah aktivitas belajar siswa, hasil belajar fisika kompetensi Hukum Newton sebagai prinsip dasar dinamika serta respon siswa terhadap pelaksanaan strategi pembelajaran dengan siklus ACE.
3. Sumber data
Data yang dikumpulkan adalah aktivitas belajar siswa yang bersumber dari hasil observasi kegiatan siswa saat pembelajaran, sedangkan data hasil belajar kimia siswa bersumber dari nilai tes hasil belajar siswa kompetensi Hukum Newton sebagai prinsip dasar dinamika. Data respon siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran bersumber dari hasil kuesioner yang diberikan pada siswa kelas X-1 SMA Penabur Harapan Indah Bekasi.
4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
Cara pengumpulan data dan instrumennya adalah seperti tabel berikut.
Jenis data | Instrumen pengumpul data | Cara Pengumpulan data |
1. Aktivitas belajar siswa 2. Hasil belajar siswa 3. Respon siswa | Pedoman/lembar observasi Tes hasil belajar Kuesioner | Observasi Tes Angket |
5. Analisis Data
Data yang terkumpul dianalisis, dievaluasi dan kemudian dilakukan refleksi untuk perbaikan dan atau rekomendasi hasil tindakan. Data aktivitas dikumpulkan dengan pedoman observasi, dianalisis kemudian ditentukan persentase aktivitas siswa dengan pedoman dan kategori:
1) kategori kurang aktif jika aktivitas kurang dari 25%,
2) kategori cukup aktif jika aktivitas 25% -50 % ,
3) kategori aktif jika aktivitas 51% -75 %,
4) kategori sangat aktif jika aktivitas 76%- 100%.
Data tes hasil belajar kimia dianalisis dengan menentukan rata-rata tes hasil belajar pada siklus I dan siklus II dan ketuntasan individu. Rumus rerata tes hasil belajar yang digunakan :
Rerata =
, x = nilai individu dan n = jumlah siswa.

Sedangkan ketuntasan individu ditentukan berdasarkan nilai KKM yaitu 75.
Data respon siswa dianalisis dari hasil angket dengan menentukan kategori positif jika minimal 60% siswa memberikan opsi setuju dan kurang positif jika lebih dari 40% siswa memberi opsi tidak setuju terhadap pelaksanaan pembelajaran.
6. Indikator Keberhasilan
Penelitian tindakan ini dianggap berhasil jika:
1. Aktivitas belajar siswa minimal mencapai kategori aktif
2. Hasil belajar siswa minimal mencapai skor rata-rata 75 dan minimal 75% siswa mencapai KKM.
3. Siswa memberi tanggapan positif terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan.
7. Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus dengan tiap siklus terdiri atas 4 tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi (Kemmis dan McTaggart, 2000). Siklus I dilaksanakan pada topik hidrokarbon jenuh dan siklus II dilakukan pada topik hidrokarbon tak jenuh (alkena dan alkuna). Alur penelitian secara diagramatis adalah sebagai berikut :
Siklus I siklus II

2. Pelaksanaan tindakan 2. Pelaksanaan tindakan
3. Observasi/evaluasi 3. Observasi/evaluasi
4. Refleksi 4. Refleksi/rekomendasi
Gambar : Alur penelitian tindakan kelas
(Model: Kemmis dan McTaggart, 2000)
Siklus I
a. Tahap Perencanaan Tindakan
Sesuai dengan sasaran topik yakni Hukum Newton yang akan dilakukan dalam 3 kali pertemuan dengan rencana tindakan yang akan dilakukan adalah:
a) Membuat bahan ajar, lembar kegiatan siswa(LKS) sesuai dengan sasaran kompetensi yang akan dicapai dan sesuai dengan silabus.
b) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang berisi rencana tindakan yang dilakukan mengarah pada kegiatan siswa untuk beraktivitas, berdiskusi, dan berlatih memecahkan masalah.
c) Membuat instrumen pengumpulan data (lembar observasi, rubrik pemahaman konsep), jurnal pembelajaran, dan catatan lain sebagai alat untuk merekam kejadian yang terjadi.
d) Membuat tes hasil belajar siklus I
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Sesuai dengan rencana yang dibuat, maka pelaksanaan tindakan secara rinci adalah sebagai berikut.
a) Menyampaikan bahan ajar dan LKS pada siswa, yang berisi petunjuk tentang apa yang harus dikerjakan oleh siswa selama mengikuti pembelajaran topik Hukum Newton.
b) Memberikan orientasi siswa tentang teknik dan strategi pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam mencapai tujuan belajar
c) Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana/skenareo pembelajaran yang berisi langkah-langkah dengan strategi siklus ACE yang telah dibuat dalam rencana pelaksanaan pembelajaran( rpp).
d) Mengamati aktivitas belajar siswa dengan pedoman observasi, mencatat hal-hal yang terjadi selama diskusi.
e) Melakukan pengamatan terhadap pemahaman siswa pada saat berlatih memecahkan masalah( soal)
f) Memberikan tes hasil belajar pada akhir siklus I
c. Tahap Observasi dan Evaluasi Tindakan
Pengamatan terhadap proses pelakasanaan pembelajaran dilakukan oleh peneliti bersama teman sejawat sebagai observer. Aktivitas belajar siswa diamati dan dicatat pada pedoman observasi. Indikator keaktifan siswa yang diamati antara lain: jumlah siswa yang bertanya, jumlah siswa yang menjawab pertanyaan, jumlah siswa yang mengajukan hipotesis, jumlah siswa yang mengajukan gagasan, jumlah siswa yang berinteraksi saat diskusi, dan jumlah siswa yang berpartisipasi dalam membuat simpulan. Hasil observasi kemudian dievaluasi, dibahas bersama dengan teman sejawat.
d. Tahap Refleksi Tindakan
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang telah dipelajari atau dilakukan pada hari yang telah lalu. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Berdasarkan hasil pengamatan, dan apa yang telah dilakukan siswa dilakukan refleksi untuk kemudian dijadikan catatan untuk perbaikan proses pembelajaran pada siklus selanjutnya.
Siklus II
a. Tahap Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan pada siklus II pada dasarnya sama dengan siklus I namun menyasar topik yang berbeda yakni Hukum Newton yang akan dilaksanakan dalam 4 kali pertemuan. Memberikan angket pada siswa mengenai pelaksanaan pembelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Temuan yang ada pada siklus I dan belum berlangsung dengan baik, pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dilakukan perbaikan dengan terus melanjutkan proses yang telah berjalan dengan baik pada siklus I. Perbaikan pelaksanaan pada siklus II, mengacu pada kendala dan hasil refleksi siklus I. Penulis berkeyakinan banyak kendala yang ditemukan pada siklus I karena kemampuan dan heterogenitas siswa kelas X-1 sangat tinggi.
b. Tahap Observasi /Evaluasi Tindakan
Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas belajar siswa dan dicatat pada pedoman observasi. Indikator keaktifan siswa yang diamati antara lain: jumlah siswa yang bertanya, jumlah siswa yang menjawab pertanyaan, jumlah siswa yang mengajukan hipotesis, jumlah siswa yang mengajukan gagasan, jumlah siswa yang berinteraksi saat diskusi, dan jumlah siswa yang berpartisipasi dalam membuat simpulan. Hasil observasi kemudian dievaluasi, dibahas bersama dengan teman sejawat.
c. Tahap Refleksi
Melakukan kajian terhadap apa yang terjadi, apa yang telah dilakukan, apa yang harus disimpulkan untuk rekomendasi hasil penelitian.
J. Jadwal Kegiatan
Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan, diuraikan pada tabel berikut.
No. | Kegiatan | Bulan ke- | ||
1 | 2 | 3 | ||
1. | Pembuatan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian siklus I | ![]() | | |
2. | Pelaksanaan pembelajaran siklus I | ![]() | | |
3. | Observasi pembelajaran siklus I | ![]() | | |
4. | Pelaksanaan tes hasil belajar siklus I | ![]() | | |
5 | Analisis dan refleksi siklus I | ![]() | | ![]() |
6. | Pembuatan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian siklus II | | | ![]() |
7. | Pelaksanaan pembelajaran siklus II | | | ![]() |
8. | Observasi pembelajaran siklus II | | | ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() ![]() |
9. | Pelaksanaan tes hasil belajar siklus II | | | |
10. | Analisis dan refleksi siklus II | | | |
11. | Penyusunan draft laporan | | | |
12. | Revisi laporan akhir | | | |
13. | Penyelesaian laporan/ pengesahan | | | |
mohon maaf yang posting proposal ini, boleh minta sekalian dicantumkan daftar pustakanya...terima kasih
BalasHapuslagi butuh referensi nih